Tunjangan Fungsional Resmi Dihentikan Kemdikbud


TUNJANGAN FUNGSIONAL RESMI DIHAPUS

Kemaren Tagor Alamsyah Harahap memberikan sebuah pengumuman penting dimana informasi ini terkait tunjangan guru. Dalam status di laman facebooknya Tagor Alamsyah Harahap menyatakan bahwa tunjangan fungsional resmi di stop oleh Kemdikbud. Penghentian subsidi tunjangan fungsional ini berkaitan dengan berakhirnya masa perundangan PP no 74 tahun 2004.
Penghentian program subsidi tunjangan fungsional ini tidak perlu ditakutkan oleh guru. Mengingat Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) telah menyiapkan pengganti subsidi tunjangan fungsional tersebut. Tagor Alamsyah juga menyatakan bahwa tunjangan fungsional akan diganti dengan nama insentif guru non pns.
Tunjangan Fungsional Resmi Dihentikan Kemdikbud

Berikut keterangan resminya

Assalamualaikum WW. Sesuai PP 74 tahun 2005 bahwa Subsidi Tunjangan Fungsional (STF) sudah berakhir 10 Tahun sejak diundangkan. Sebagai pengantinya tahun ini akan diberikan Insentif guru bukan PNS baik mengajar di sekolah negeri atau swasta. Diberikan bagi yg belum sertifikasi (bedakan sudah sertifikasi tetapi tdk dapat jam tdk boleh terima insentif ini). Salah satu Syarat utama adalah beban mengajar minimal 24 jam. Pemberian didasarkan beban mengajar dan kelebihannya sehingga setiap orang bisa terima berbeda jumlahnya. Oleh karena itu mohon jangan memberikan jam anda ke guru lain agar sama2 terima karena akan diberlakukan batas minimal jam yg harus dimiliki minimal 24 jam perminggu. Kami siapkan 100.000 kuota, jika yg memenuhi syarat sedikit itu artinya kita kelebihan guru (mohon dipahami agar para guru membuktikan diri diberi kepercayaan oleh yayasan atau pemda mengajar 24 jam karena mampu dan dibutuhkan, jika tdk diberi beban artinya kondisi anda kebalikan dari pernyataan ini). Mari tunjukkan anda dibutuhkan oleh sekolah dgn diberikan beban mengajar minimal sesuai amanat undang2 minimal 24 jam perminggu. Wassalam
Walau hingga saat ini Juknis insentif guru non PNS tersebut belum keluar namun Satu syarat utama adalah guru yang mengajar minimal 24 jam pelajaran. Kelebihan jam mengajar akan dihitung pula sebagai tambahan insentifnya.


Download Dapodikdas Versi 5.00 2016

Pemirsa rekan Info GTK khususnya operator sekolah, Kemdikbud akhirnya secara resmi merilis aplikasi terbaru dapodikdas untuk tahun ajaran 2016-2017 yakni dapodik versi 2016 terbaru. Aplikasi ini merupaka installer terbaru bukan patch. Jadi Dapodik lama yang sudah ada di laptop harus di hapus dulu instalasinya yaaa.

  1. Aplikasi dapodik terbaru menggunakan installer baru, dan bisa digunakan dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK. Jadi tidak terpisah antara dapodikdas dan dapodikmen.
  2. Operator diharapkan mempersiapkan segala sesuatunya seperti kode registrasi dapodik, SK operator (untuk operator baru) berkas data siswa baru, jadwal mengajar, data KIP dll.
  3. Operator Wajib menyiapkan akun lama (Username/email dan password) yang digunakan untuk login dapodik versi sebelumnya.
  4. Hal yang baru juga dalam Proses Registrasi dapodik 2016 terbaru bisa dilakukan baik secara online maupun offline.



Jadi yang mesti disiapkan adalah
1. Kode registrasi dapodik
2. Prefill dapodik terbaru, unduh lagi, jangan pake yang lama.
3. Installer aplikasi dapodik 5.00

Panduan instalasi dapodik hingga selesai silakan buka link linkdi bawah ini:
1. Cara menghapus aplikasi dapodik lama dari komputer
2. Cara Download atau generate prefill dapodik
3. Cara Instal dapodik terbaru
4. Cara Registrasi Dapodik

Silakan bagi yang mau download klik link ini atau menuju web download dapodikdas 5.00 di http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id/

Finlandia Akan Hapus Pelajaran Matematika dan Fisika

Finlandia yang menjadi salah satu negara barometer pendidikan terkemuka di dunia bakal melakukan perombakan paling radikal dalam sistem pendidikan modern. Mulai tahun 2020, negara ini menghapus setahap demi setahap mata pelajaran individual seperti matematika, kimia, dan fisika. Sebagai gantinya, siswa diajarkan tentang topik-topik atau fenomena yang luas dan aktual sehingga tak ada lagi pertanyaan seperti "apa gunanya belajar mata pelajaran ini?"

Langkah revolusioner itu dilakukan berdasarkan uji coba sejak dua tahun lalu yang menghapus mata pelajaran individual untuk pelajar usia 16 tahun di Helsinki, ibu kota negara. Selain itu, 70 persen guru SMA di Helsinki dilatih dengan pendekatan baru tersebut. Hasil uji coba menunjukkan bahwa siswa merasa senang dan diuntungkan.

Richard Garner dari The Independent melaporkan bahwa output terukur dari murid telah membaik sejak sistem baru diperkenalkan. Cetak biru Kyllonen atau kurikulum pendidikan baru yang merujuk nama Marjo Kyllonen, Manajer Pendidikan Helsinki, akan dipublikasikan akhir bulan ini.  Kurikulum baru itu bakal diterapkan pada tahun 2020.

Para perencana menjelaskan ketimbang mengikuti satu jam pelajaran geografi dan satu jam pelajaran sejarah seperti saat ini, lebih baik siswa belajar tentang Uni Eropa selama dua jam. "Di dalamnya meliputi pelajaran bahasa, ekonomi, sejarah, dan geografi," katanya.

Contoh lain, siswa sekolah kejuruan yang mempraktekkan sistem 'pelayanan di kantin' akan sekaligus belajar matematika, bahasa, dan keterampilan berkomunikasi. Meskipun siswa masih mempelajari semua teori-teori ilmiah yang penting, mereka akan mencari tahu apa yang mereka pelajari dengan menerapkannya yang sebenarnya terdengar cukup mengagumkan.

Pasi Silander, Manajer Pengembangan Helsinki yang memimpin proyek perubahan ini menekankan pentingnya pelajaran yang dapat membantu siswa memasuki dunia kerja. "Yang kami butuhkan sekarang adalah jenis pendidikan yang berbeda untuk mempersiapkan orang bekerja," katanya.

Anak-anak muda masa kini sudah hebat menggunakan komputer. Pada masa lalu semua bank memiliki banyak pegawai yang menghitung angka secara manual tapi sekarang semuanya telah berubah. "Oleh karena itu kita harus membuat perubahan dalam pendidikan yang diperlukan untuk industri dan masyarakat modern," katanya kepada Garner.

Sistem baru ini juga mendorong berbagai jenis pembelajaran, seperti memecahkan masalah dalam berinteraksi dan bersosialisasi di antara kelompok-kelompok yang lebih kecil untuk membantu mengembangkan keterampilan siswa untuk siap berkarier.

"Kita harus memikirkan dan merancang ulang sistem pendidikan sehingga dapat mempersiapkan anak-anak kita di masa depan dengan keterampilan yang diperlukan untuk hari ini dan esok," kata Marjo Kyllonen. Menurut Marjo, ada sekolah yang mengajar dengan cara kuno yang berguna hanya untuk masa-masa di awal tahun 1900-an. Tetapi kebutuhan tidak sama, katanya, dan kita perlu sesuatu yang cocok untuk abad ke-21.

Memang, ada beberapa reaksi dari para guru yang menghabiskan seluruh kariernya dengan mengkhususkan diri dalam mata pelajaran tertentu. Namun cetak biru kurikulum baru ini menunjukkan bahwa guru dari berbagai latar belakang berbeda akan bekerja sama untuk menerapkan topik-topik dari kurikulum baru ini. Mereka juga akan menerima insentif dengan melakukan sinergi itu.

Finlandia diakui memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Secara terus-menerus, negara ini berada pada peringkat atas PISA untuk mata pelajaran bergengsi seperti matematika, sains, dan membaca. Apakah perubahan radikal ini bakal membantu mereka untuk tetap mempertahankan posisi itu?

72 Ribu Guru Akan Disertifikasi Tahun Ini

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen GTK Kemdikbud), Sumarna Surapranata, mengatakan, 72.082 guru yang belum mendapatkan sertifikasi guru pada 2015 akan segera dituntaskan pada 2016 ini.

"Para guru tersebut akan kita usahakan mendapat sertifikasi tahun ini. Sebetulnya, pemerintah menargetkan sertifikasi guru dapat selesai pada 2015," kata Pranata saat di temui di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (1/11).

Pranata menjelaskan, ada 72.082 guru yang belum mendapat sertifikasi karena belum menyelesaikan pendidikan strata satu (S-1) atau diploma IV, sehingga belum mendapat sertifikasi. "Padahal, salah satu syarat untuk sertifikasi adalah guru minimal harus lulus pendidikan S1 atau D4," tambah dia.
sergur 2016
Alumnus IKIP Bandung ini menuturkan, jika para guru tersebut bisa lulus kuliah di tahun ini, pemerintah bisa merampungkan proses sertifikasi. "Sertifikasi guru, merupakan salah satu fokus utama pemerintah di tahun ini," kata Pranata.

Untuk mempercepat sertifikasi tersebut, kata dia, pemerintah juga menyiapkan beasiswa bagi para guru yang akan melanjutkan kuliah. Bantuan beasiswa tersebut, lanjut dia, dikenal dengan sebutan beasiswa pendidikan profesi untuk Sertifikasi Pendidikan Profesi Guru (SPPG).

"Beasiswa yang diberikan bersifat selektif, salah satunya berdasarkan berapa lama mengajar, jurusan yang diperlukan, serta keberpihakan masing-masing daerah," papar dia.

Disarankan, Pelajaran Agama dan Budi Pekerti Dipisahkan

Pemerhati Pendidikan Doni Koesoema mengatakan, untuk meningkatkan nilai dan moral anak bangsa, pemerintah harus kembali memberikan ruang untuk pelajaran Agama dan Budi Pekerti. Sebab keputusan penyatuan kedua pelajaran ini tidak berdampak baik untuk meningkatkan moral anak bangsa.

Doni menyebutkan, pada kurikulum 2013 (K-13), pemerintah menyatukan kedua pelajaran ini, namun tidak efektif karena pada penerapannya, pelajaran agama masih lebih dominasi daripada budi pekerti. Isi pelajaran agama masih tetap sama dengan sebelumnya. Tidak tampak membahas keberagaman sehingga tidak ada perubahan dan kemajuan dari penerapannya.

“ Meskipun disatukan pelajaran agama tampaknya lebih dominan karena dalam pembahasan belum ada penyatuan tema-tema untuk meningkatkan persahabatan, kejujuran, gotong royong, dan saling menghormati. Pelajaran agama masih tetap pembahasan pada dogma-dogma,” kata Doni pada Diskusi Koalisi Masyarakat Sipil untuk Transformasi Pendidikan ( KMPSTP) di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Jakarta, Kamis (7/1).

Doni menambahkan, seharusnya pemerintah memberikan ruang 66 % untuk pelajaran agama dan 37 % untuk pelajaran budi pekerti supaya efektif. Pelajaran agama harus dikonsepkan untuk fokus pada solusi menumbuhkan budi pekerti supaya tidak terpisahkan dan adanya perubahan.

Selain pelajaran agama dan budi pekerti, Doni juga menyoroti soal, pendidikan teknologi informasi dan komputer (TIK) yang juga ditiadakan dari K-13.

Dewan Pembina dan Pertimbangan Ferderasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) ini mengaku, ditiadakan pelajaran TIK mendapat protes dari guru TIK karena mereka masih memiliki keinginan untuk mengajar tetapi kehilangan tempat.

Kedepannya dia mengharapkan, pemerintah dapat mengubah skema dan mekanisme pembelajaran dan pengajaran TIK tentang teknologi informasi yang berkembang di Asia secara bertahap karena pengetahuan TIK di Tanah Air tidak sama levelnya.

“ Harus ada tahapan karena sarana dan prasarana sekolah di Indonesia berbeda-beda maka harus dipertimbangkan tentang konsepnya, jangan diterapkan dengan standar yang sama,” tuturnya.

Soal UN 2016 Libatkan Guru Kurikulum 2013 dan 2006


Standar kompetensi lulusan (SKL) atau kompetensi dasar (KD) antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 2006 hampir sama. Proses pembuatan kisi-kisi UN tahun pelajaran 2015/2016 pun turut melibatkan guru-guru di sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 maupun yang masih menerapkan Kurikulum 2006.

“Waktu menyusun kisi-kisi UN, kami juga mengundang guru-guru yang mengajar Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Kisi-kisi itu kemudian dikembangkan, kemudian diserahkan ke Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Setelah itu ditelaah oleh BSNP untuk kemudian ditetapkan secara resmi sebagai kisi-kisi ujian nasional,” ujar Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud, Nizam, beberapa waktu lalu.

Nizam mengatakan, dalam tahap penyusunan kisi-kisi, Kemendikbud mengajak guru-guru dari Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang materi yang akan dimasukkan ke dalam kisi-kisi. “Apakah sudah diajarkan? Kalau sudah diajarkan oleh guru yang mengajar Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 itu lalu dimasukkan ke dalam kisi-kisi,” tuturnya.

Setelah kisi-kisi ujian nasional resmi ditetapkan oleh BSNP, tahap selanjutnya adalah menjadikan kisi-kisi tersebut sebagai rujukan untuk membuat soal UN. Tim pembuat soal UN terdiri dari beberapa elemen, yaitu dari perguruan tinggi, ahli pengukuran, dosen, hingga guru-guru yang mengajar Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. Setelah soal UN dibuat, tahap selanjutnya adalah review atau mengkaji kembali.

“Setelah yakin sudah benar semua, kemudian buat try out untuk dua kelompok, yaitu Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Kemudian masuk tahap validasi. Apakah semua soal sudah meng-cover semua yang akan diuji? Jadi kita pastikan tidak hanya sekali (proses), jadi dimulai dari kisi-kisi, pembuatan soal, try out, hingga tahap validasi,” kata Nizam seperti diberitakan situs Kemdikbud.go.id, Rabu (6/1/2016).

Ia mengatakan, review atau kajian kembali untuk tahap terakhir dilakukan dalam bentuk panel. Setelah review panel dilakukan, ada tahap yang disebut providence. Semua proses tahapan pembuatan kisi-kisi dan soal ujian nasional itu dilakukan agar kualitas soal UN benar-benar terjaga, dan tentunya melibatkan guru-guru yang mengajar Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. solopos.com

Penguasaan TIK akan Tingkatkan Daya Saing Global

Menjawab tantangan masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) di era teknologi digital saat ini, daya saing lulusan perguruan tinggi (PT) perlu dibekali dengan kompetensi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof Mohammad Bisri mengatakan, untuk memenuhi tuntutan tersebut, UB menetapkan kompetensi TIK sebagai salah satu standar kelulusan.
"Sejak 2015, UB memang telah memutuskan untuk mengunakan standar kompetensi pengunaan microsoft office bagi seluruh mahasiswa sebagai nilai tambah dalam menyelesaikan tugas kuliah dan daya saing alumni saat masuk dunia kerja, " kata Bisri pada saat Sidang Terbuka Senat UB dalam Rangka Peringatan Dies Natalis UB ke-53 di Universitas UB, Malang, Selasa (5/1).

Basir menambahkan, selain penguasaan TIK untuk meningkatan daya saing, UB menjalin kerjasama dengan empat negara dalam program double degree yakni Taiwan dengan empat universitas, Jepang dengan dua universitas, Thailand dengan enam universitas, dan Australia dengan enam universitas.
Menurut Bisri, program ini bertujuan untuk sosialisasi ketersediaan sumber daya internasional penelitian agar meningkatkan jumlah kolaborasi internasional. Sehingga dalam jangka panjang, UB akan meningkatkan jumlah penerimaan mahasiswa program magister dan doktor ke depannya.
Pada kesempatan yang berbeda, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (Aptisi) Edy Suandi Hamid mengatakan, lulusan PT saat ini untuk standar TIK mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan. Meski begitu, ia mengakui untuk kasus uji kompetensi lulusan diploma, hasilnya masih belum terlalu menggembirakan. Padahal, dalam persaingan regional seperti di ASEAN dan global, standar minimal bagi seorang tenaga kerja harus di atas standar tersebut.

"Jika masih rata-rata maka pasti sulit bersaing,"kata dia kepada SP, Rabu (6/1) pagi.
Ke depannya Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini mengharapkan, PT-PT besar dengan reputasi baik harus menghasilkan lulusan dengan TIK yang bagus. Oleh karena itu, lulusan TIK PT harus terus mengasah keilmuan dan meningkatkan keterampilannya, tanpa terus tergantung dengan lembaga pendidikan tingginya.

"Bisa belajar nonformal, mandiri, dan melakukan inovasi untuk menciptakan program, bukan hanya user,"ujarnya.
Dia menuturkan, potensi memiliki kemampuan TIK cukup besar dapat mendorong berkembangnya industri kreatif yang bernilai tambah tinggi dan bisa mengglobal diera digital seperti sekarang ini.

SKL Kurtilas dan KTSP hampir Sama

Peserta didik yang akan mengikuti ujian nasional (UN) tahun ini tidak perlu bingung mengenai standar kompetensi lulusan (SKL) bagi mereka yang menjalani Kurikulum 2013 maupun yang masih menjalani Kurikulum 2006.
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan standar kompetensi lulusan (SKL) antara Kurikulum 2013 hampir sama dengan Kurikulum 2006, sehingga materi yang diujikan pun hampir sama.

“Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 2006 itu 95 persen (materi) yang diujikan sama, standar kompetensi lulusan (SKL) sama, dan kisi-kisi juga sudah disusun, mencakup hal yang sama,” ujar Mendikbud saat konferensi akhir tahun di Kantor Kemendikbud, Rabu (30/12/2015).
Hal itu juga ditegaskan kembali oleh Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud, Nizam. Nizam mengatakan, kompetensi lulusan merupakan hal yang ingin dicapai setiap kurikulum. Penerapan kurikulum yang berbeda di sekolah-sekolah, menyebabkan masyarakat melihat seolah-olah standar kompetensi lulusan dan materi ujian nasional juga akan berbeda, padahal materi yang terkandung dalam kedua kurikulum tersebut sama.

“UN itu kan mengukur sebagian dari kompetensi anak dalam hal capaian pengetahuan beberapa mata pelajaran tertentu. Sehingga dari mata pelajaran itu kami lihat dalam Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. Kurikulum 2006 misalnya menghendaki anak SMP mengetahui bangun segitiga, tentang sudut, atau pangkat. Lalu kita lihat Kurikulum 2013, di sana ada juga materi matematika untuk mengetahui tentang itu. Ini kan sama. Kalau kita ngukur itu kan ukurannya sama, jadi yang diujikan juga sama,” tutur Nizam seperti diberitakan Kemendikbug.go.id, Selasa (5/1/2016).

Ia mengatakan, tujuan capaian pengetahuan atau standar kompetensi lulusan (SKL) atau kompetensi dasar (KD) antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum 2006 memang hampir sama. Hal itu juga yang disampaikan Kemendikbud ke Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam membuat kisi-kisi ujian nasional.

“Akhirnya diputuskanlah oleh BSNP bahwa kisi-kisinya sama. Jadi (materi) ujiannya juga sama. Kalau ujiannya sama kan memudahkan pengguna soal dan pembuat soal. Bagi pengguna soal (siswa), kalau materi ujiannya beda kan nanti bisa ribut di masyarakat. Misalnya yang nilainya 9 sama enggak dengan yang nilainya 7, karena kan soalnya berbeda?” ujar Nizam.
Ia kembali menegaskan, materi ujian nasional tahun pelajaran 2015/2016 untuk Kurikulum 2013 hampir sama dengan Kurikulum 2006 sehingga siswa dan guru tidak perlu khawatir dengan adanya perbedaan standar kompetensi lulusan (SKL).

7 Provinsi Nilai Terbaik UKG 2015


Sebanyak tujuh provinsi mendapat nilai terbaik dalam penyelenggaraan uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015. Nilai yang diraih tersebut merupakan nilai yang mencapai standar kompetensi minimum (SKM) yang ditargetkan secara nasional, yaitu rata-rata 55. Tujuh provinsi tersebut adalah DI Yogyakarta (62,58), Jawa Tengah (59,10), DKI Jakarta (58,44), Jawa Timur (56,73), Bali (56,13), Bangka Belitung (55,13), dan Jawa Barat (55,06).

Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 menguji kompetensi guru untuk dua bidang yaitu pedagogik dan profesional. Rata-rata nasional hasil UKG 2015 untuk kedua bidang kompetensi itu adalah 53,02. Selain tujuh provinsi di atas yang mendapatkan nilai sesuai standar kompetensi minimum (SKM), ada tiga provinsi yang mendapatkan nilai di atas rata-rata nasional, yaitu Kepulauan Riau (54,72), Sumatera Barat (54,68), dan Kalimantan Selatan (53,15).

UKG
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, jika dirinci lagi untuk hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogik saja, rata-rata nasionalnya hanya 48,94, yakni berada di bawah standar kompetensi minimal (SKM), yaitu 55. Bahkan untuk bidang pedagogik ini, hanya ada satu provinsi yang nilainya di atas rata-rata nasional sekaligus mencapai SKM, yaitu DI Yogyakarta (56,91).

“Artinya apa? Pedagogik berarti cara mengajarnya yang kurang baik, cara mengajarnya harus diperhatikan,” ujar Pranata usai konferensi pers akhir tahun 2015 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (30/12/2015).

Pranata mengatakan, setelah nilai UKG dilihat secara nasional, nanti akan dilihat lagi secara rinci hasil UKG per kabupaten/kota, dan hasil UKG per individu (guru). “Ada pertanyaan, ini data hasilnya mau diapakan? Dengan data ini kita dapat potret untuk kita memperbaiki diri,” katanya.

Ia mencontohkan, ada guru yang mendapat nilai rata-rata 85. Namun meskipun nilai tersebut baik, setelah dianalisis hasilnya, guru tersebut memiliki kekurangan di beberapa kelompok kompetensi. “Dia ada kekurangan di tiga kelompok, yaitu kelompok kompetensi 1, kelompok kompetensi 4, dan kelompok kompetensi 6. Maka dia harus memperbaikinya,” tutur Pranata. Salah satu instrumen untuk meningkatkan kompetensi guru itu adalah dengan pelatihan dan pendidikan yang lebih terarah sesuai dengan hasil UKG.